
Oleh : Syaifuddin Zuhri
Sekretaris Umum Fosil BKMI Kota Medan
PENDAHULUAN
Masjid pada masa Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat shalat. Masjid adalah “pusat kehidupan umat”. Di sanalah umat belajar Al-Qur’an, bermusyawarah, menyusun strategi dakwah, menyelesaikan persoalan sosial, membina generasi muda, mengatur distribusi zakat dan lain-lain. Dengan kata lain, masjid adalah jantung kehidupan masyarakat Islam.
MASJID DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Dalam (QS. At-Taubah: 18) Allah SWT menggunakan kata “memakmurkan”. Makna memakmurkan sangat luas. Memakmurkan berarti menghadirkan kehidupan. Menghidupkan ilmu, ukhuwah, kepedulian dan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, ukuran keberhasilan masjid dilihat dari besarnya manfaat masjid bagi umat.
RASULULLAH ﷺ MEMBANGUN EKOSISTEM
Ketika Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, bangunan pertama yang didirikan bukanlah pasar, bukan pula kantor pemerintahan. Yang pertama dibangun adalah Masjid Nabawi.
Mengapa? Masjid menjadi tempat bertemunya Muhajirin dan Anshar. Masjid tempat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, lahirnya pemimpin.
Masjid bukan hanya menghubungkan manusia dengan Allah. Masjid juga menghubungkan manusia dengan sesama. Inilah yang dalam bahasa manajemen modern disebut sebagai ekosistem.
APA ITU EKOSISTEM UMAT?
Dalam dunia alam, ekosistem adalah hubungan yang saling mendukung antara berbagai unsur sehingga kehidupan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Konsep yang sama dapat diterapkan pada kehidupan umat. Masjid tidak boleh berdiri sendiri. Masjid harus menjadi pusat yang menghubungkan seluruh potensi umat. Menghubungkan ulama dengan akademisi, pengusaha dengan UMKM, dokter dengan masyarakat, guru dengan anak-anak, profesional dengan generasi muda, orang kaya dengan program pemberdayaan, wakaf dengan pembangunan ekonomi umat. Semakin banyak hubungan yang lahir melalui masjid, semakin kuat ekosistem umat yang terbentuk.
Ekosistem dibangun untuk menghadapi persoalan umat yaitu: kemiskinan, pengangguran, krisis keluarga, kenakalan remaja, kesenjangan digital, lemahnya literasi, masalah kesehatan mental, dan lain-lain. Jika masjid mampu menghadirkan solusi atas persoalan-persoalan tersebut, maka masjid akan kembali menjadi pusat kehidupan masyarakat.
MEMBANGUN TIGA PILAR EKOSISTEM UMAT
Belajar dari keseharian saya sebagai praktisi HRD, menurut saya, ada tiga pilar utama yang harus dibangun oleh setiap masjid.
Pertama, Modal Sosial (Social Capital)
Modal terbesar masjid adalah manusia, yaitu kepercayaan, persaudaraan, budaya saling membantu, jaringan, gotong royong. Semua itu disebut modal sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menggambarkan bahwa umat Islam adalah satu kesatuan yang saling menguatkan. Masjid menjadi tempat terbaik untuk menumbuhkan ikatan tersebut.
Kedua, Kepercayaan Publik (Public Trust)
Kepercayaan adalah aset yang tidak dapat dibeli, ia tumbuh karena amanah, transparansi, keteladanan, konsistensi. Masjid yang dipercaya akan lebih mudah menggerakkan relawan, memperoleh segala dukungan.
Ketiga, Kemitraan Umat (Community Partnership)
Masjid perlu membangun kemitraan dengan sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, lembaga zakat, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai unsur masyarakat lainnya, berkolaborasi membangun kekuatan.
PENGURUS MASJID ADALAH PEMIMPIN EKOSISTEM
Pengurus masjid menjadi pemimpin ekosistem adalah ide besar. Mungkin nanti akan saya bahas tersendiri. Saya ingin mengajak kita mengubah cara memandang diri kita sebagai pengurus masjid. Jangan merasa tugas kita hanya membuka pintu masjid, mengatur jadwal imam, atau menyusun agenda pengajian.
Tetapi amanah kita jauh lebih besar. Kita adalah pemimpin ekosistem. Tugas kita adalah mempertemukan “orang-orang baik” dengan “peluang berbuat baik”. Menghubungkan: ilmu dengan pengabdian, rezeki dengan keberkahan, generasi tua dengan generasi muda, masjid dengan masa depan umat.
Ketika hubungan-hubungan itu terbangun, masjid tidak lagi menjadi bangunan yang ramai hanya saat waktu shalat. Masjid menjadi pusat lahirnya perubahan sosial, riuh dengan berbagai kegiatan, 24 jam bernafas, berdegub, mengalirkan semangat membangun masa depan umat.
Di situlah masjid benar-benar menjadi rumah umat. Pusat lahirnya generasi, gagasan, kepedulian, dan peradaban. Karena sesungguhnya, ketika masjid berhasil membangun modal sosial, kepercayaan publik, dan kemitraan umat, maka masjid tidak lagi berjalan sendiri. Ia akan bergerak bersama umat.
Dan ketika umat bergerak bersama masjid, insya Allah akan lahir masyarakat yang beriman, berilmu, berdaya, dan berkeadaban.
Sesungguhnya kekuatan masjid tidak diukur dari tingginya menara. Kekuatan masjid diukur dari kemampuannya menghubungkan manusia dengan Allah, serta menghubungkan manusia dengan sesama untuk melahirkan kemaslahatan. Itulah hakikat masjid sebagai ekosistem umat
Wallahu a’lam
Fosil Berkarya, Masjid Berdaya dan Ummat Berjaya dan Sejahtera