
Banyak pengurus masjid mengeluhkan bahwa Generasi Z semakin jauh dari masjid. Mereka dianggap sulit diatur, lebih sibuk dengan telepon genggam, kurang tertarik mengikuti pengajian, dan lebih senang menghabiskan waktu di media sosial.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah memahami cara berpikir mereka?
Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa Gen Z bukanlah generasi yang kehilangan nilai. Mereka adalah generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
Paling tidak, ada 3 yang perlu dipahami:
1. Gen Z mencari makna, bukan sekadar aktivitas
Survei Deloitte Global tahun 2025 yang melibatkan lebih dari 23.000 responden dari 44 negara menemukan bahwa Gen Z memprioritaskan tiga hal dalam hidup dan pekerjaannya: penghasilan yang layak, pekerjaan yang bermakna, dan kesejahteraan hidup. Menariknya, hanya sekitar 6% yang menjadikan jabatan tinggi sebagai tujuan utama karier. Mereka juga menginginkan pembimbing (mentor), bukan sekadar atasan yang memberi perintah.
Pelajarannya bagi masjid sangat jelas.
Generasi muda tidak cukup hanya diajak hadir dalam pengajian. Mereka ingin mengetahui mengapa mereka harus terlibat dan manfaat apa yang dapat mereka berikan kepada umat.
Masjid perlu memberi mereka kesempatan memimpin kegiatan, mengelola media sosial masjid, menjadi relawan sosial, mengembangkan program lingkungan, atau menginisiasi kegiatan kreatif. Ketika mereka merasa memiliki makna dan dipercaya, keterlibatan mereka akan tumbuh.
2. Gen Z memperoleh informasi secara sosial
Penelitian yang dipublikasikan di arXiv mengenai cara Gen Z memahami informasi di internet menemukan bahwa mereka lebih sering menemukan informasi daripada mencarinya. Informasi yang mereka percaya juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, teman, komunitas, dan media sosial. Mereka tidak hanya bertanya “apakah ini benar?”, tetapi juga “apakah ini relevan dengan komunitasku?”
Hal ini memberi pelajaran penting bagi dakwah masjid.
Jika masjid hanya mengandalkan ceramah di mimbar, sementara Gen Z menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang digital, maka akan terjadi kesenjangan komunikasi.
Karena itu, masjid perlu hadir di ruang digital melalui konten yang edukatif, singkat, menarik, dan mudah dibagikan. Di saat yang sama, masjid perlu mengajarkan literasi digital agar generasi muda mampu membedakan informasi yang benar dari hoaks dan disinformasi.
3. Era digital menuntut peningkatan keterampilan
OECD dalam kajiannya tentang transformasi digital Indonesia menegaskan bahwa perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, sementara peningkatan keterampilan digital masyarakat harus terus dipercepat agar semua kelompok dapat memperoleh manfaat dari transformasi tersebut.
Artinya, tantangan masjid saat ini bukan hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membantu jamaah menghadapi perubahan zaman.
Masjid dapat menjadi tempat belajar yang relevan, misalnya melalui pelatihan literasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab, kewirausahaan digital, maupun pengembangan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Apa yang harus dilakukan pengurus masjid?
Jika ketiga hasil penelitian tersebut kita gabungkan, maka ada beberapa langkah yang patut dipertimbangkan.
Pertama, jangan hanya menjadikan Gen Z sebagai peserta kegiatan, tetapi libatkan mereka sebagai perancang dan pelaksana program.
Kedua, hadirkan kegiatan yang memiliki makna nyata, seperti aksi sosial, kepedulian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pelayanan kepada sesama.
Ketiga, manfaatkan media digital sebagai sarana dakwah, komunikasi, dan pembelajaran, bukan sekadar media publikasi.
Keempat, bangun hubungan mentor antara pengurus senior dengan generasi muda. Mereka membutuhkan bimbingan, kepercayaan, dan ruang untuk berkembang.
Kelima, jadikan masjid sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat, yang tidak hanya menguatkan iman, tetapi juga membekali jamaah dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi perubahan zaman.
Penutup
Masjid pada masa Rasulullah ﷺ bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pembinaan manusia. Tantangan zaman berubah, tetapi prinsipnya tetap sama.
Jika dahulu masjid membina generasi yang mampu menghadapi perubahan sosial di Jazirah Arab, maka hari ini masjid juga harus mampu membina Gen Z agar menjadi muslim yang beriman, berakhlak, cakap secara digital, dan siap memberi manfaat bagi masyarakat.
Memahami Gen Z bukan berarti mengikuti semua keinginan mereka. Memahami Gen Z berarti menemukan cara agar nilai-nilai Islam dapat diterima, dipahami, dan diamalkan oleh generasi yang akan memimpin masa depan.
Wallahu a’lam
Medan, 14 Juli 2026
Drs. Syaifuddin Zuhri
Sekjen Fosil BKMI Kota Medan