SEDANG TERJADI PERUBAHAN CARA GENERASI MUDA ISLAM BERAGAMA

SEDANG TERJADI PERUBAHAN CARA GENERASI MUDA ISLAM BERAGAMA
Sebuah Ulasan Kritis untuk Pengurus Masjid dan Fosil BKMI (Bahan pemikiran jelang Muktamar 2027)
Oleh: Drs. Syaifuddin Zuhri
Sekretaris Umum Fosil BKMI Kota Medan
Pendahuluan
Di hampir setiap forum kemasjidan, kita sering mendengar keluhan yang sama:
“Anak muda sekarang sudah jarang ke masjid.”
“Remaja masjid semakin sedikit.”
“Kajian dipenuhi orang tua.”
“Sulit mencari kader pengurus masjid.”
Pernyataan-pernyataan tersebut memang memiliki dasar. Namun pertanyaannya adalah: apakah benar anak muda semakin jauh dari Islam?
Menurut hemat saya, jawabannya tidak sesederhana itu. Menurut saya yang sedang terjadi bukanlah semata-mata krisis keislaman, melainkan perubahan cara generasi muda menjalani kehidupan beragama.
Perubahan ini sangat penting dipahami agar diagnosis kita tidak keliru terhadap generasi muda. Sebab jika keliru, maka solusi yang kita tawarkan pun akan keliru.
Dari Masjid ke Layar Gawai
Dua puluh tahun yang lalu, seorang anak muda yang ingin belajar agama hampir pasti datang ke masjid. Hari ini kondisinya berbeda.
Ketika ingin mengetahui hukum suatu persoalan, mereka membuka YouTube.
Ketika ingin mendengar ceramah, mereka membuka TikTok.
Ketika ingin belajar membaca Al-Qur’an, mereka mencari aplikasi.
Ketika ingin berdiskusi, mereka masuk ke grup Telegram atau WhatsApp.
Ketika ingin mencari inspirasi, mereka mengikuti akun media sosial para dai.
Artinya, media atau pusat belajar agama telah berpindah sebagian ke ruang digital. Masjid bukan lagi satu-satunya pintu belajar agama. Ini bukan berarti masjid kehilangan fungsi, tetapi kehilangan posisi monopolinya sebagai sumber pengetahuan agama.
Anak Muda Tidak Menolak Islam
Menurut saya, anak muda tidak menolak Islam. Inilah kesalahan analisis yang sering terjadi.
Banyak pengurus masjid menyimpulkan “Karena pemuda tidak datang ke masjid, berarti mereka tidak peduli agama.”
Padahal belum tentu demikian. Banyak anak muda justru rajin mengikuti kajian daring, menghafal Al-Qur’an melalui aplikasi, mengikuti dakwah di media sosial, berdonasi secara digital, membaca buku-buku Islam, bahkan berdiskusi tentang akidah dan fikih di komunitas daring. Mereka tetap beragama. Tetapi cara mereka beragama telah berubah, tidak seperti kita kaum “tua” yang mendominasi menjadi pengurus masjid.
Mereka Mencari Makna, Bukan Sekadar Informasi
Generasi muda hidup pada zaman yang penuh tekanan. Mereka menghadapi persaingan kerja, kecemasan ekonomi, media sosial, krisis identitas, kesepian, tekanan untuk tampil sempurna.
Karena itu pertanyaan mereka berubah. Dulu orang bertanya: “Apa hukumnya?” Sekarang mereka bertanya “Bagaimana Islam membantu saya menjalani hidup?”
“Mereka mencari ketenangan, makna hidup, komunitas, mentor, teladan, ruang bertumbuh.”
Maka yang perlu kita khawatirkan adalah : “Jika masjid hanya menyampaikan hukum tanpa menghadirkan pendampingan dan ruang tumbuh, maka anak muda akan mencari jawaban di tempat lain.”
Organisasi Tidak Lagi Menarik Mereka
Ada perubahan budaya mereka yang perlu dipahami. Generasi sebelumnya rela mengikuti organisasi selama puluhan tahun. Generasi sekarang lebih menyukai gerakan yang berdampak langsung.
Mereka senang menjadi relawan, membuat konten, ikut aksi sosial, membersihkan lingkungan, membantu korban bencana, mengajar anak-anak, mengembangkan usaha sosial.
Sebaliknya mereka kurang tertarik pada rapat yang terlalu panjang, birokrasi yang rumit, jabatan yang tidak jelas manfaatnya, struktur yang kaku. Ini bukan berarti mereka tidak mau berorganisasi. Mereka hanya ingin organisasi yang memberikan ruang berkarya.
Mereka Ingin Dipercaya
Di banyak masjid, anak muda masih diposisikan sebagai pelaksana teknis. Mereka diminta mengangkat kursi, memasang spanduk, menjaga parkir, membersihkan halaman. Semua itu pekerjaan itu mulia.
Namun mereka juga ingin diberi kesempatan menyusun program, mengelola media sosial, memimpin kegiatan, berbicara di depan publik, mengembangkan inovasi, mengambil keputusan.
Ingat, generasi muda tumbuh ketika diberi kepercayaan. Jika tidak mendapat ruang di masjid, mereka akan mencari ruang di komunitas lain.
Masjid Masih Berbicara kepada Generasi Lama
Mari kita jujur. Sebagian besar aktivitas masjid hari ini masih dirancang untuk generasi yang berusia di atas 40 tahun. Tema-tema kajian sering membahas persoalan yang sangat penting, tetapi belum selalu menjawab kegelisahan anak muda.
Jarang kita mendengar kajian tentang bagaimana memilih karier, etika bermedia sosial, kecerdasan digital, kesehatan mental dalam perspektif Islam, membangun keluarga muda, kewirausahaan, kepemimpinan, teknologi dan dakwah.
Padahal itulah dunia yang sedang mereka hadapi. Masjid tidak perlu mengubah ajaran Islam.
Tetapi cara penyampaiannya harus mampu menjawab realitas zaman, realitas kaum muda.
Kota Medan Memiliki Peluang Besar
Saya justru optimis. Mengapa? Karena Kota Medan memiliki modal sosial yang luar biasa. Ada ribuan pemuda Muslim, 1.200 masjid, banyak perguruan tinggi, pesantren, organisasi Islam, komunitas kreatif, dunia usaha yang terus berkembang.
Masalahnya, kita bukan kekurangan anak muda. Masalahnya adalah belum ada ekosistem yang mempertemukan seluruh potensi itu di masjid.
Tantangan Baru bagi Pengurus Masjid
Jika perubahan ini benar kita pahami, maka ukuran keberhasilan masjid juga harus berubah.
Bukan hanya bertanya berapa kali kajian diadakan?
Tetapi juga bertanya:
Berapa pemuda yang menjadi mentor?
Berapa yang memimpin kegiatan?
Berapa yang belajar kewirausahaan?
Berapa yang menjadi relawan sosial?
Berapa yang menjadi pengurus masjid?
Berapa yang tetap aktif setelah lulus kuliah?
Berapa yang kembali ke masjid setelah mulai bekerja?
Masjid harus mulai mengukur proses kaderisasi, bukan sekadar jumlah kegiatan.
Dari Tempat Ibadah Menjadi Tempat Bertumbuh
Masjid pada zaman Rasulullah bukan hanya tempat shalat.
Masjid adalah madrasah
Masjid adalah pusat kepemimpinan.
Masjid adalah pusat pelayanan sosial.
Masjid adalah tempat lahirnya para sahabat yang kemudian memimpin dunia.
Artinya, sejak awal sejarah Islam, masjid memang dirancang sebagai tempat membentuk manusia.
Bukan hanya tempat menyelenggarakan ibadah.
Apa yang Harus Dilakukan Fosil BKMI?
Disini kita dapat melihat peluang besar bagi Fosil BKMI. Sudah saatnya gerakan kemasjidan memasuki babak baru. Fosil BKMI tidak cukup hanya membantu masjid-masjid membuat program-program rutin.
“Fosil BKMI perlu menjadi penggerak transformasi budaya masjid, sehingga setiap masjid menjadi tempat yang dicintai generasi muda.”
Ada setidaknya lima agenda strategis yang dapat menjadi arah gerakan:
- Mengubah paradigma pengurus masjid, dari “pemuda sebagai peserta” menjadi “pemuda sebagai calon pemimpin.”
- Membangun ekosistem kaderisasi, bukan sekadar kegiatan insidental.
- Mengintegrasikan dakwah digital dengan dakwah masjid, sehingga ruang digital menjadi pintu masuk menuju kehidupan berjamaah.
- Membekali pengurus masjid dengan kemampuan memahami karakter Generasi Z dan Generasi Alpha, agar pendekatan dakwah lebih relevan.
- Menjadikan setiap masjid sebagai inkubator pemimpin muda umat, sehingga masjid menjadi tempat lahirnya pemimpin keluarga, profesional, pengusaha, dai, akademisi, dan pemimpin masyarakat.
Penutup
Perubahan zaman tidak selalu berarti kemunduran. Sering kali, perubahan justru merupakan panggilan untuk memperbarui cara kita berdakwah tanpa mengubah nilai-nilai Islam.
Generasi muda Kota Medan dan Indonesia bukanlah generasi yang kehilangan iman. Mereka adalah generasi yang hidup di tengah dunia digital, arus informasi tanpa batas, dan tantangan yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi: “Mengapa anak muda tidak datang ke masjid?”
Tetapi: “Sudahkah masjid menjadi tempat yang dibutuhkan oleh anak muda untuk bertumbuh?”
Jika pertanyaan kedua ini dijawab dengan sungguh-sungguh, maka akan lahir wajah baru masjid di Kota Medan dan Indonesia, yaitu masjid yang bukan hanya ramai oleh jamaah, tetapi juga menjadi pusat lahirnya generasi muda yang bertauhid, berilmu, berakhlak, berkarya, dan siap memimpin umat. Insya Allah.
Jadi, “Generasi muda tidak sedang meninggalkan Islam. Mereka sedang mencari ruang baru untuk menghidupi Islam. Tugas masjid adalah memastikan ruang itu tetap bernama masjid.”
Wallahu a’lam
Medan, 25 Juni 2026
