Fosil BKM Indonesia

 

ALGORITMA DAN IMPLIKASINYA

Ada sebuah pernyataan yang berkembang seperti ini : “Kini reputasi tidak dibentuk oleh apa yang organisasi katakan tentang dirinya sendiri, tapi oleh apa yang algoritma pilih untuk diperlihatkan kepada publik.”

Pernyataan di atas sangat menarik, karena menyentuh perubahan besar dalam cara manusia memperoleh informasi di era digital.

Yang harus kita mengerti di awal adalah : apa itu Algoritma?

Algoritma adalah serangkaian aturan atau langkah yang digunakan komputer untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan suatu masalah.

Kalau di dunia media sosial dan internet, algoritma adalah sistem yang menentukan konten apa yang akan Anda lihat terlebih dahulu. Misalnya, kita sering menonton video tentang masjid, maka algoritma akan menampilkan lebih banyak video tentang kajian, dakwah, atau pengelolaan masjid.

Dengan kata lain, algoritma bertugas menyajikan “Konten mana yang paling mungkin membuat pengguna tertarik dan tetap menggunakan platform?”

Lalu, apakah pernyataan ini benar?

“Kini reputasi tidak dibentuk oleh apa yang organisasi katakan tentang dirinya sendiri, tapi oleh apa yang algoritma pilih untuk diperlihatkan kepada publik.”

Secara garis besar, BENAR, tetapi tidak sepenuhnya. Sebab, di era digital, persepsi publik terhadap organisasi memang dipengaruhi oleh algoritma, tetapi reputasi sejati tetap dibangun oleh kualitas tindakan organisasi tersebut.

Dulu di Era Media Tradisional, organisasi mengendalikan citranya sendiri melalui Brosur, Iklan, Konferensi pers, acara-acara, Website resmi, publikasi, yang komunikasinya bersifat satu arah.

Di Era Algoritma, publik memperoleh informasi dari : Media sosial, Mesin pencari, Video pendek, Ulasan pelanggan, Komentar netizen, Influencer yang kesemuanya disaring oleh algoritma.

Akibatnya, organisasi bisa saja memiliki banyak prestasi, tetapi jika algoritma lebih sering menampilkan berita negative tentang organisasi itu, maka persepsi publik bisa menjadi negatif.

Misalnya ada dua perusahaan di Medan, perusahaan outsourcing A pelayanannya sangat baik, tapi tidak aktif di media digital, jarang membuat konten dan tidak pernah muncul di pencarian.

Sementara perusahaan outsourcing B, pelayanannya biasa saja, namun aktif membuat konten edukasi, banyak testimoni video, mudah ditemukan di internet.

Ketika calon pelanggan mencari “Perusahaan outsourcing terpercaya di Medan”, maka yang lebih dulu muncul kemungkinan besar adalah Perusahaan B.

Tapi ingat, bukan berarti B lebih baik, tetapi algoritma memiliki lebih banyak sinyal bahwa konten B relevan dan menarik.

Namun ada yang lebih penting, algoritma tidak menciptakan reputasi dari nol. Algoritma hanya memperbesar apa yang sudah ada.

Misalnya, jika Fosil memberikan pelayanan buruk, banyak komplain, mendapat ulasan negatif, maka algoritma juga dapat memperluas penyebaran informasi negatif tersebut.

Sebaliknya, jika Fosil konsisten melayani dengan baik, menghasilkan konten yang bermanfaat, memiliki pengurus dan anggota yang puas, algoritma cenderung memperkuat citra positif itu.

Dalam banyak diskusi, dalam perspektif manajemen modern, tentang REPUTASI dibentuk oleh tiga lapisan :

  1. Real Reputation (Reputasi Nyata)

Apa yang benar-benar dilakukan Fosil misalnya kualitas, integritas, professional dan anggota puas dan apresiasi, maka Ini adalah fondasi nyata. Lalu ada :

  1. Digital Reputation (Reputasi Digital)

Apa yang ditulis orang lain tentang Fosil di Internet, misalnya di review Google, di komentar media sosial, di artikel berita, di testimoni-testimoni orang-orang tentang Fosil, ini disebut Reputasi Digital. Lalu ada :

  1. Algorithmic Reputation (Reputasi Algoritmik)

Yaitu apa yang dipilih sistem untuk ditampilkan kepada publik. Faktor yang memengaruhi antara lain: banyaknya interaksi, relevansi, kualitas konten, frekuensi pembaruan web dan medsos Fosil, kredibilitas sumber yang dirujuk Fosil, ini akan membangun Reputasi Algoritmik.

 

Implikasi

Implikasi untuk organisasi sosial seperti masjid atau Fosil BKMI : Fosil dan Masjid tidak cukup hanya menjalankan program yang baik, tetapi Fosil dan Masjid juga perlu mendokumentasikan kegiatan, membuat konten edukatif, menampilkan dampak program, membagikan kisah inspiratif jamaah, karena masyarakat modern mengenal sebuah masjid bukan hanya dari bangunannya, tetapi dari jejak digitalnya.

 Kesimpulan

Pernyataan tersebut mengandung kebenaran yang kuat, tetapi perlu dilengkapi:

“Di era digital, reputasi organisasi tidak lagi hanya dibentuk oleh apa yang organisasi katakan tentang dirinya sendiri, melainkan oleh kombinasi kualitas nyata organisasi, pengalaman publik, dan apa yang dipilih algoritma untuk diperlihatkan kepada masyarakat.”

Algoritma dapat mempercepat terbentuknya persepsi, tetapi fondasi reputasi tetaplah INTEGRITAS, KUALITAS dan KONSISTENSI tindakan Fosil dan masjid tersebut. Organisasi yang mampu menyatukan ketiganya akan memiliki keunggulan yang jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar mengejar perhatian di media digital.

Wallahu a’lam

Medan, 23 Juni 2026

Team Fosil BKMI