Fosil BKM Indonesia

Medan, 16 Juni 2026 — Upaya memperkuat kemandirian ekonomi umat kembali menjadi perhatian utama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara. Melalui Seminar Nasional Penguatan Ekonomi dan Bisnis Umat yang digelar dalam rangkaian Gebyar Muharram 1448 Hijriah, berbagai elemen strategis umat Islam berkumpul untuk merumuskan langkah-langkah nyata dalam membangun kekuatan ekonomi berbasis syariah.

Kegiatan yang berlangsung di Medan tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Buya Dr. H. Maratua Simanjuntak. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum transformasi dan kebangkitan umat, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan sosial.

Menurut Buya Maratua, semangat hijrah yang menjadi ruh Muharram perlu diwujudkan dalam bentuk peningkatan kemandirian dan daya saing umat. Karena itu, MUI Sumut terus menginisiasi berbagai program yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Umat Islam harus mampu menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi yang berlandaskan syariah dan kemaslahatan. Masjid, pesantren, organisasi keumatan, dan pelaku usaha harus saling bersinergi untuk mewujudkan hal tersebut,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa rangkaian Gebyar Muharram 1448 H telah melibatkan lebih dari 2.500 peserta dari berbagai kalangan masyarakat. Berbagai kegiatan seperti jalan sehat, bazar UMKM, perlombaan, hingga kegiatan sosial dan keagamaan dinilai berhasil memperkuat ukhuwah sekaligus membuka ruang pengembangan ekonomi umat.

Bazar UMKM yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut mendapat perhatian khusus karena dinilai mampu menunjukkan peran strategis masjid dan organisasi keumatan sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Model pengembangan ekonomi berbasis komunitas seperti ini diyakini dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan.

Ketua Panitia Seminar, Prof. Dr. Abdullah Jamil, M.Si, menjelaskan bahwa seminar nasional ini diikuti oleh enam kelompok strategis yang memiliki pengaruh besar dalam pembangunan ekonomi umat. Mereka terdiri atas perwakilan MUI kabupaten/kota, pengusaha Muslim, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM), organisasi kemasyarakatan Islam, pimpinan pondok pesantren, serta pimpinan fakultas ekonomi dari berbagai perguruan tinggi.

Menurut Abdullah yang juga menjabat sebagai Ketua Umum FOSIL BKMI (Forum Silaturahim Badan Kemakmuran Masjid Indonesia), kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi umat yang kuat dan berkelanjutan.

Ia menilai bahwa meskipun umat Islam merupakan mayoritas penduduk di Sumatera Utara, kontribusi dan dominasi dalam sektor ekonomi masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang lebih erat antara dunia usaha, lembaga pendidikan, masjid, dan organisasi keumatan agar potensi besar tersebut dapat dioptimalkan.

Seminar yang menghadirkan narasumber Firsal Firdaus Mutyara dan Asrul Tanjung tersebut diharapkan mampu menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang dapat dibawa sebagai masukan menuju Kongres Umat Islam yang akan diselenggarakan di Jakarta.

Dalam kegiatan itu, turut hadir insan FOSIL BKMI yang selama ini aktif mengembangkan program pemberdayaan ekonomi berbasis masjid, termasuk pembinaan UMKM di lingkungan masjid. Kehadiran mereka menjadi bagian dari komitmen untuk menjadikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat penguatan ekonomi masyarakat.

Melalui semangat Muharram yang identik dengan perubahan dan pembaruan, para peserta seminar berharap lahir gerakan ekonomi umat yang lebih terorganisasi, produktif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, umat Islam tidak hanya menjadi mayoritas secara jumlah, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi yang kuat dan berkontribusi besar terhadap pembangunan bangsa.