Fosil BKM Indonesia

MERAWAT API, MEMPERLUAS CAHAYA

Artikel

MERAWAT API, MEMPERLUAS CAHAYA
Falsafah Regenerasi Kepemimpinan Fosil BKMI

Bahan Renungan Internal Menyongsong Kepemimpinan Fosil BKMI 2027–2032

Oleh : Drs. Syaifuddin Zuhri
Sekretaris Umum Fosil BKMI Kota Medan

Bismillahirrahmanirrahim

Setiap organisasi akan sampai pada satu titik yang menentukan. Bukan ketika organisasi itu didirikan, bukan pula ketika organisasi itu mulai dikenal masyarakat.

Tetapi ketika organisasi harus menjawab satu pertanyaan yang sangat mendasar: “Bagaimana perjuangan ini akan terus hidup ketika zaman berubah dan generasi berganti?”

Kurang dari satu tahun lagi, Fosil BKMI akan memasuki periode kepengurusan baru. Banyak orang mungkin memandang Muktamar 2027 sebagai agenda rutin lima tahunan untuk memilih Ketua Umum dan menyusun kepengurusan baru.

Namun sesungguhnya, tantangan yang kita hadapi jauh lebih besar dari sekadar memilih siapa yang akan memimpin, tetapi bagaimana memastikan api perjuangan yang telah dinyalakan oleh para perintis tetap menyala, bahkan menerangi lebih luas pada masa yang akan datang.

Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk berbicara tentang siapa yang layak menjadi pengurus. Tulisan ini ingin mengajak kita bersama-sama merenungkan falsafah regenerasi kepemimpinan Fosil BKMI.

PARA PERINTIS MENYALAKAN API

Tidak ada organisasi besar yang lahir tanpa pengorbanan. Demikian pula Fosil BKMI. Organisasi ini dibangun bukan dengan fasilitas, bukan pula dengan sumber daya yang melimpah.

Fosil lahir dari kegelisahan terhadap kondisi masjid, dari keinginan menghadirkan tata kelola yang lebih baik serta dari keyakinan bahwa masjid harus kembali menjadi pusat kebangkitan umat. Para Assabiqunal Awwalun telah meletakkan fondasi itu.

Mereka bukan sekadar mendirikan organisasi. Mereka menyalakan api keikhlasan, pengabdian, dan keberanian untuk memulai sesuatu yang belum tentu berhasil, menyalakan api keyakinan bahwa memakmurkan masjid adalah bagian dari membangun peradaban, api itulah yang hari ini masih menghidupkan Fosil BKMI.

MENGAPA API ITU HARUS DIJAGA?

Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum PP Fosil BKMI, Prof. Dr. Abdullah Jamil, M.Si, selalu mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan organisasi melalui para Assabiqunal Awwalun.

Pesan ini perlu dipahami secara utuh. Bukan sekadar sebagai persoalan siapa yang menduduki jabatan tertentu. Melainkan sebagai kesadaran bahwa pada fase awal perjalanan organisasi, terdapat posisi-posisi strategis yang masih memerlukan kehadiran para perintis sebagai penjaga arah perjuangan. Sebab mereka bukan hanya memahami struktur organisasi. Mereka memahami sejarah lahirnya organisasi, memahami filosofi perjuangan, memahami nilai-nilai yang menjadi ruh Fosil BKMI.

Dalam dunia organisasi, fase seperti ini adalah fase menjaga gravitasi organisasi. Gravitasi tidak terlihat, namun tanpanya, seluruh sistem kehilangan keseimbangan.

Demikian pula sebuah organisasi. Selama nilai, budaya, dan sistem belum benar-benar mengakar, maka keberadaan para perintis pada titik-titik strategis menjadi bagian dari proses menjaga kesinambungan. Ini bukan persoalan mempertahankan jabatan. Ini adalah proses menjaga arah.

REGENERASI TIDAK SAMA DENGAN PERGANTIAN

Sering kali kita memahami regenerasi sebagai pergantian orang. Padahal regenerasi yang sesungguhnya adalah pewarisan nilai, budaya, dan tanggung jawab perjuangan.

Pergantian jabatan dapat berlangsung dalam satu hari. Tetapi membentuk seorang kader yang memahami ruh organisasi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Karena itu, regenerasi harus menjadi pekerjaan setiap hari.

KADER TIDAK DILAHIRKAN, TETAPI DICARI

Sekretaris Jenderal PP Fosil BKMI, Ir. Ilham Safwi, CWC, pernah menyampaikan pesan yang sangat sederhana namun mendalam. Beliau mengatakan bahwa kader Fosil BKMI harus dicari secara door to door.

Makna “door to door” bukan sekadar mendatangi rumah seseorang. Tetapi menunjukkan kesungguhan organisasi dalam mencari manusia-manusia terbaik.

Mencari orang-orang yang siap mewakafkan diri, mencintai masjid bukan karena jabatan, bersedia bekerja tanpa menunggu penghargaan, ketika diberi amanah berkata, “Insya Allah saya siap belajar.”, dan seterusnya.

Sejarah membuktikan bahwa organisasi besar tidak pernah lahir dari orang yang datang mencari jabatan. Organisasi besar dibangun oleh orang-orang yang ditemukan, dibina, dipercaya, dan diberi ruang untuk bertumbuh.

MENEMPATKAN ORANG SESUAI KOMPETENSINYA

Fosil BKMI telah memasuki fase baru. Ke depan, organisasi tidak cukup hanya memilih orang yang aktif. Organisasi juga perlu mulai memikirkan penempatan kader berdasarkan kompetensi.

Seorang aktivis wakaf yang memiliki kompetensi tinggi dapat memperkuat pengembangan wakaf. Seorang kader muda yang menguasai teknologi dapat mengembangkan transformasi digital organisasi. Itu sudah terjadi di Fosil BKMI dan harus diteruskan ke berbagai kompetensi yang dibutuhkan Fosil BKMI.

Dengan demikian, perpindahan amanah tidak dipahami sebagai promosi jabatan. Melainkan sebagai penempatan kemampuan pada tempat yang paling memberikan manfaat. Inilah yang akan melahirkan organisasi berbasis kompetensi.

FOSIL MEMBANGUN JEMBATAN SEBAGAI PUSAT EKOSISTEM

Dengan keterbatasan yang ada, Fosil BKMI berhasil membangun kolaborasi. Dari sana lahir berbagai inisiatif yang menunjukkan bahwa Fosil BKMI dapat menjadi simpul dan leadership.

Keberhasilan membangun wakaf sawah produktif, mengembangkan kawasan Pekuburan Baqi, menjembatani antar masjid sehingga terjadi kolaborasi “Jamaah pengurus masjid” dan “jamaah lintas institusi” memperkuat kehadiran Fosil BKMI menjadi “pusat ekosistem umat”.

Pengalaman seperti ini harus didokumentasikan, diduplikasikan dan diwariskan. Karena organisasi tidak dibangun hanya oleh teori. Organisasi dibangun oleh teladan.

MEMPERLUAS CAHAYA MELALUI KEMITRAAN

Ketua PW Fosil BKMI Sumatera Utara, Sahlan Jukhri, mengingatkan bahwa banyak program yang dijalankan Fosil BKMI pada hakikatnya merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam membina kehidupan keagamaan dan memberdayakan masyarakat.

Karena itu, Fosil BKMI harus memperkuat kerja sama dengan pemerintah. Kemitraan yang baik akan memperluas manfaat. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya. Fosil BKMI memiliki jaringan, pengalaman lapangan, dan kedekatan dengan masjid.

Ketika keduanya berjalan bersama, manfaat bagi umat akan jauh lebih besar. Inilah salah satu makna memperluas cahaya.

MEMBANGUN SISTEM

Saya meyakini bahwa tugas kepengurusan 2027–2032 bukan sekadar melanjutkan program yang sudah ada. Lebih dari itu, kepengurusan mendatang harus mulai membangun system agar gravitasi yang telah di bangun semakin bercahaya.

Fosil BKMI harus membangun sistem kaderisasi, sistem pelatihan, sistem dokumentasi pengetahuan, sistem seleksi berbasis kompetensi, sistem digitalisasi organisasi, sistem kemitraan yang berkelanjutan dan system lain yang dibutuhkan.

Dengan demikian, organisasi tidak lagi bergantung pada figur. Tetapi berdiri kokoh di atas nilai, budaya, dan system yang kuat.

PENUTUP

Tugas kita adalah merawat api itu, agar tetap hangat, tetap memberi arah, dan memperluas cahayanya hingga menjangkau lebih banyak masjid, pengurus, generasi muda, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Semoga Allah SWT menjaga keikhlasan para perintis, menguatkan langkah para penerus, dan menjadikan Fosil BKMI sebagai bagian dari Karya membangun masjid yang Berdaya, umat yang Berjaya dan sejahtera, serta Indonesia yang lebih kuat dan maju.

Wallahu a’lam

 

Bagikan :